Pada istiah umum, kita sering mendengar kata jam karet. Jam karet bukanlah jamnya yang terbuat dari karet, tetapi sikap kita yang menganggap waktu itu bagaikan karet. Padahal dalam kenyataannya waktu itu tidak memiliki sikap pegas yang bisa kita tarik ulur. Beberapa pengalaman yang membuat kita terbiasa dengan keterlambatan yang membuat mindset berfikir kita yang sering menyepelekan waktu. Waktu tidak pernah berjalan mundur, waktu bahkan bisa di bilang sesuatu yang sangat angkuh, kita hanya bisa menatap kebelakang dan selalu melihat apa yang kita tatap semakin lama semakin menjauh, baik itu hal yang membahagiakan, ataupun hal yang menyedihkan, semua tidak akan pernah kita alamu lagi di waktu dan tempat yang sama.
Pada penjelasan saya diatas, saya ingin meyadarkan para pembaca sealian akan betapa berharganya waktu. Maklum, pengalaman saya yang sangat sering menyesal karena waktu. Bahkan keangkuhan waktulah yang sering disesalkan oleh banyak orang, “seandainya pada saat itu saya melakukan ..” , “andai pada saat itu saya memilih. . .”. tanpa kita sadari pertanyaan pertanyaan tersebut yang berputar putar di balik setiap penyesalan yang kita alami, sehingga hal tersebut yang membuat arah pandang kita terus tertuju ke belakang. “Hei Bung. . . Jalan didepan masih Panjang,”
Setiap kita terlalu lama memfokuskan pandangan kita kebelakang, waktu akan terus terbuang, jadi, ambillah yang perlu kau ambil, pelajarilah semua hal yang pernah terjadi dan jadikan hal tersebut sebagai pengalaman untuk anda melangkah kedepannya lebih jauh lagi.
Ingat, “waktu tidak pernah mundur kebelakang... . . ”
Jadi satu hal yang harus kitaa pegang sebelum tes wawancara sebagai bentuk penghargaan yang tinggi yaitu,
“Lebih baik kita yang menunggu daripada mereka yang menunggu”





